welcom

Selamat datang di blog sederhana kami..

Tuesday, March 15, 2011

NIH KEBIASAAN PARA JOMBLO SEJATI




Negatif thinking –Misalnya, kalau pas lagi jalan sendiri, lalu ada yang tanya (temankerja atau teman sekampus lain jurusan), “Koq sendiri?” Langsung dehreaksinya seperti ini: “Sudah tahu sendiri, pakai tanya-tanya.Mentang-mentang gua jomblo. Nyindir, ya.”Atau, suatu kali ngelihat ada orang lain yang ngelihatin: “Kenapasih lihat-lihat?! Anehnya ya, karena gua jomblo. Dasar, tamblo (tampangbloon) lu.”

Padahal, “Koq sendiri?” itu kan pertanyaan standar orang yangpengen tanya tapi nggak tahu mau tanya apa. Just basa-basi. Nggak adamaksud apa-apa. Malah kalau tanyanya “Koq berdua?” atau “Sama siapa?”jadi aneh bin konyol. Lha, sudah jelas sendiri pakai tanya “Koqberdua?” atau “Sama siapa?” segala.

Dan orang yang ngelihatin bisa saja karena rasa-rasanya koq kenal.Atau kagum sama tahi lalat di pipi kita. Dipikirnya, “Hoki bener tuhorang ada tahi lalat di pipinya. Coba kalau tahi kebo atau tahi kucing,kan jelek!” – Jadi, nggak ada kait-mengkait dengan kejombloan kita.

Begitulah kalau sudah dikuasai pikiran negatif. Segala sesuatudisikapi secara negatif. Ibarat orang pakai kacamata hitam. Semua yangdilihatnya serba hitam. Lalu bagaimana dong mengatasinya? Tidak adacara lain, ganti kacamatanya dengan kacamata yang lebih terang. Jangansalahkan obyek yang dilihat.

– Citra diri yang negatif –“Siapalah saya ini. Tampang pas-pasan. Nggak bisa apa-apa pula. Otakbelet, lha nilai kuliah saja hampir tidak pernah bergeser dari C. DapetB tuh untung. A, wah ajaib benar anugerah-Mu deh. Mana ada yang mausama saya.Seandainya saya jadi orang lain pun, nggak bakalan koq saya mau punya pacar kayak diri saya begini.”

Padahal gambaran kita tentang diri kita sendiri akan sangatberpengaruh terhadap pikiran, perasaan dan sikap hidup kita. Ibaratmakanan bagi tubuh kita, citra diri akan sangat menentukan; apakah kitaakan menjadi pribadi yang optimistis, percaya diri, punya semangathidup. Atau sebaliknya, menjadi pribadi yang pesimistis, rendah diri,loyo alias nggak punya semangat hidup.

– Rumput di halaman rumah tetangga kelihatan lebih hijau –“Duh, enak nian punya pacar kayak die. Kemana-mana ada yang nemenin.Ada yang perhatiin and diperhatiin. Ada shoulder to cry on. Malamminggu nggak cengo sendiri di rumah. Lonely. Bisa ngerasain dag dig dugserrr tiap nunggu doi. Kapan pun dan dimana pun ada yang selalu bisadi-call. Pokoknya asyik deh.”Jadi nganggepnya hidup orang lain tuh lebih enak, lebih baik,lebih nikmat, lebih segalanya. Lalu kita berandai-andai; seandainyahidup kita kayak hidup die, dunia kita kayak dunia die. Seolah kita nihbaru bahagia kalau kayak die. Kita jadi kurang bersyukur dengan hidupkita sendiri. Padahal, mana ada sih orang yang hidupnya selalu senang.

Siapa pun pastilah punya senang dan susahnya sendiri. Punya pacarpun nggak melulu enak koq. Kadang ada sebalnya. Kadang bisa bikinjengkel and stress juga. So, jangan heran kalau yang sudah punya pacarpun bisa mikir begini: “Duh, enak nian ngejomblo. Bebase sebebas burungdi udara.

– Berselubung topeng –Nggak jujur dengan diri sendiri. Nggak apa adanya.Contoh 1 (gaya selebritis: kemayu, dengan sikap bertutur diatur):“Aku emang belum mau pacaran koq. Suer. Masih ingin sendiri.” – Yangsebenarnya: aku belum ketemu yang aku mau die mau. Adanya aku mau dienggak mau, die mau akunya nggak mau. Ada yang aku mau die mau, eh diemaunya mau nabok sama aku.

Padahal apa salahnya bilang, “Aku bukannya nggak kepengen, tapibelum ketemu yang pas.” Titik. Kalau bilangnya: belum mau pacaran,masih ingin sendiri – besok atau lusa ternyata ketemu yang cocok. Nah,luh baru nyaho. Malu kan mesti ngejilat ludah kuda (kalau ludah sendirisudah biasa.

Contoh 2 (gaya politisi: kemaki, dengan sikap bertutur nggak teratur): “Gue naksir die?! Idihh, amit-amit. Sorry ya, dibayar

goceng pun nggak bakalan gue ambil!” – Yang sebenarnya: aku sihokelah sama die, tapi dienya cuek banget. Benci deh aku (dengan gayagenit ala Pelawak Tessi).

Padahal apa salahnya bilang, “Dienya cuek begitu, mana beranigue.” Titik. Kalau bilangnya: amit-amit, dibayar goceng pun gua gakbakalan ambil – dan ternyata die tuh ngesir sama kita, cuma karena diepunya “kemaluan” gede (baca: pemalu) jadinya die pasang sikap cuekbebek. Sok cool. Nah, gimana coba kalau begitu?! Masak mau ikut-ikut siselebritis: ngejilat ludah kuda.

So, tanggalkan topeng itu. Apa adanya sajalah. Tapi ya, jangan vulgar, mengobral atau norak. Jujur dengan elegan gitulah.

– Hanyut terbawa perasaan –Nelangsa. Merasa kasihan pada diri sendiri. Seakan dengan ke-jomblo-an itu, dia menjadi orang yang paling malang di dunia. Makan jadi nggakenak (apalagi sayurnya sudah basi, kurang garam pula), tidur nggaknyenyak (AC mati nggak ada listrik, banyak nyamuk lagi).Nyanyinya pun lagu Chrisye: “Di malam yang sesunyi ini akusendiri, tiada yang menemani…… srot, srot (nyedot ingus). Akhirnya kinikusadari dia telah pergi tinggalkan diriku….. pufz, pufz (buang inguspakai lengan baju). Nanini nananininani ninaneniii (bagian ini nggakhafal). Reff: Mengapa terjadi pada diriku, aku tak percaya kau telahtiada…. hiks, hiks (terisak). Haruskah ku pergi tinggalkan dunia…..hoahh, hoahh (nangis sejadi-jadinya).”

Selanjutnya no comment deh. Bukan apa-apa, saya takut ikut-ikutsedih, ikut-ikut nangis, ikut-ikut sedot ingus. Malah repot. Lagian,orang yang lagi terhanyut oleh aneka rupa perasaan susah dan sedihsebetulnya kan nggak butuh kata-kata; ia lebih butuh empati dan simpati.

Saya cuma mau bilang: “You’ll never walk alone, Jomblo (ngutiplagu yang biasa dinyanyiin fans Liverpool). Kan banyak juga yang jomblohehehe.”

– Memaksakan kehendak –Cara halus: “Hi, cowok, godain kita dong!” (ekstrim: sambil melotot,satu tangan berkacak pinggang satu tangan lagi menggenggam batu siapditimpukin). Atau, “Hi, cewek, kita godain ya!” (ekstrim: sambilmemiting seorang nenek yang kebetulan lewat, dan menodongkan pistol kekeningnya).Cara kasar: “Apa pun yang terjadi gua harus dapetin doi; biargunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang. Pokoknya harus dankudu!” (ekstrim: bayar segerombolan preman untuk menculik doi, laludengan gaya kungfu Bruce Li datang menyelamatkannya).

Atau, “Saya nggak bisa hidup tanpa doi. Sudahlah, saya mau matisaja! Mana tali, mana tali! Saya mau gantung diri!” (ekstrim: “Bunda,hidup ini kejam. Kembalikan saja aku ke dalam rahimmu!” – segede gitu,gimana masukinnya ya?!”)

Atau, “Marilah kepadaku semua yang letih, lesu dan membutuhkankehangatan, aku akan memberikan diriku seutuhnya!” (ekstrim: …..disensor).

Dan kalau berdoa doanya begini: “Tuhan, kalau dia jodoh saya,dekatkanlah. Kalau dia bukan jodoh saya, jodohkanlah. Tapi kalau dianggak bisa jadi jodoh saya, biarkan dia ngejomblo seumur hidup. Amin.”

Padahal segala sesuatu yang dipaksakan – apalagi soal jodoh –pasti akan lebih banyak buruknya daripada baiknya. Usaha tentunya nggaksalah, punya keinginan mangga silahkan. Tapi iringilah itu denganpenyerahan diri kepada Sang Khalik: “Bukan hendakku yang jadi,melainkan kehendak-Mu!”

Dengan berusaha dan berserah, hidup akan terasa lebih ringan. Tuhan tahu apa yang terbaik buat diri kita. Percaya deh.

– Sirik –Orang Manado bilang mangiri. Alias iri dengki. Nggak senang ngelihatorang lain senang. Senangnya ngejelek-jelekin dan ngecil-ngecilinkebaikan orang lain. “Alaaa, dia sih piala bergilir. Lihat aja, bentarlagi juga dia akan pindah ke pelukan cowok laen. Gua sih amit-amitdapetin dia!”“Eh elu tahu nggak, dia itu kanbekas pacarnya teman sodara temangue. Nah, kata teman gue, temen gue dari sodaranya, sodaranya daritemennya yang mantan dia itu, dia pernah terlibat narkoba tuh. Pernahdigerebek polisi segala. Ortunya sampai jual rumahnya untuk bebasin diadari penjara.”Padahal ke-sirik-an hanya akan membuat kita makin buruk di mata orang lain. Dan pasti di mata Tuhan juga. Nggak ada faedahnya.

kebiasaan gamer!

[quote=gamer bisa sukses]buku yang menarik tentang gamers. Judul aslinya adalah The Kids are Alright: How the Gamer Generation is Changing the Workplace yang disesuaikan dalam bahasa Indonesia menjadi Gamers Juga Bisa Sukses yang ditulis oleh John C. Beck dan Mitchell Wade. Keduanya adalah ahli survey dan pakar pengembang teknologi. Yang menarik dari buku ini adalah cara pandang yang sangat berbeda dan hasil survey yang mengejutkan dari dunia para gamers. Baca artikel berikut sebagai review dari buku unik itu….

Tidak aneh lagi kalau para orang tua di Indonesia menganggap bahwa memainkan game dianggap mengganggu pendidikan dan tidak membuat anak-anak menjadi produktif dan rajin belajar. Hal itu sudah tidak relevan lagi dan dibuktikan dengan survey dan penelitian yang sangat detail oleh dua ahli yang kompeten di bidang teknologi informasi yaitu John C.Beck dan Mitchell Wade. Kedua peneliti ini membuat satu survey yang melibatkan berbagai kalangan gamers. Hasil survey sangat mengejutkan dan banyak membalikkan fakta seperti yang umum diterima saat ini. Memang tidak seluruhnya bersifat positif, namun jika dibandingkan dengan efek negatifnya maka ternyata gamers sangat jauh dari berbagai tudingan negatif selama ini.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan dan ketrampilan para gamers cenderung sangat membantu mereka dalam berbagai skills bahkan kemampuan leadership. Hal ini yang tidak terbayangkan sebelumnya. Banyak sekali hal-hal yang tidak terduga namun dapat dibuktikan bisa kita baca dalam buku ini mengenai dunia game dan seluk beluknya terhadap kehidupan kita. Kita sudah biasa mendengar bahwa game itu merusak, menyebarkan hal-hal buruk seperti kekerasan, seks dan anti sosial. Namun dari penelitian yang dibuat kedua pakar tersebut, hal-hal negatif itu tidak terbukti. Salah satu contoh nyata yang bisa kita lihat juga terjadi di Indonesia adalah populernya game online. Sekilas kekerasan dan anti sosial banyak didengungkan oleh orang-orang yang tidak mengerti dengan jelas bagaimana efek dari game online ini. Namun ternyata game online itu melatih para gamers untuk bisa bekerja secara tim, mengambil keputusan dan melatih diri untuk menghadapi berbagai kegagalan. Gamers juga bisa melakukan berbagai penerapan taktik dan strategi. Kemampuan menyerap bahasa asing pun dengan lebih mudah dianggap sebagai salah satu efek positif dari bermain game.

Buku ini tidak hanya menerangkan efek dunia game dari para gamers. Juga dibahas mengenai berbagai hal yang terlibat dalam kehidupan mereka setelah melewati fase anak-anak atau remaja. Malah sebenarnya buku ini banyak menjelaskan berbagai hal setelah para gamers dewasa dan pola perilaku mereka. Buku ini bukan buku yang mudah dimengerti oleh pembaca remaja, sebaliknya buku ini saya pikir lebih cocok untuk orang tua, game developer, game distributor dan para pengajar yang concern dengan dunia game serta efek yang dihasilkan. Buku ini dengan jelas menerangkan betapa banyaknya persepsi negatif yang muncul disebabkan oleh ketidaktahuan orang tua akan dunia game. Perbedaan generasi dan lompatan teknologi sudah menjadi bukti betapa dunia game bisa menyebabkan banyak bias yang tidak gampang dipahami banyak pihak, terutama orang tua dan para pendidik. Namun dari penelitian dan survey yang dilakukan secara ilmiah oleh dua orang pakar yang tidak bisa bermain game membuktikan bahwa banyak mispersepsi itu harus dibongkar dan diletakkan dalam jalur yang benar. Bahkan keduanya mengaku skeptis ketika mulai melakukan penelitian dan survey karena keduanya adalah orang tua dari anak-anak penggemar game.

Buku ini juga banyak membahas tentang kebudayaan gamers dan perkembangan dunia gamers dari segi sosial dan psikologisnya. Memang survey yang dilakukan berasal dari Amerika namun hasilnya saya pikir tidak jauh berbeda dengan negara-negara lainnya bahkan Indonesia sekalipun. Mungkin hal yang perlu diperhatikan adalah daya serap teknologi di Indonesia tidak sebesar di Amerika, namun budaya para gamers juga tampak dengan jelas di sekitar kita.

Satu kelemahan dari buku ini yang bisa membuat anda menyukainya adalah cara bertutur yang benar-benar bukan gaya Indonesia. Kelemahan ini tidak terlalu mengganggu memang, tetapi sebagian besar pembaca bisa agak “puyeng” membacanya karena mirip dengan laporan penelitian yang banyak dilengkapi dengan grafik dan angka-angka statistik. Tapi jangan terpengaruh dengan penilaian saya, anda mungkin lebih pintar matematika, jadi silahkan baca terus. Pastikan anda menempatkan diri sebagai generasi gamers maka buku ini bisa jadi panduan praktis anda untuk bahan diskusi dengan ortu dan kalangan pendidik. Alangkah baiknya kalau ada mahasiswa yang mengambil topik ini sebagai bahan skripsi atau disertasi dengan kondisi di Indonesia.
Saya sangat menyarankan anda untuk membaca buku ini. Cara pandang baru tentang dunia game dan para gamers akan anda dapatkan. Apalagi jika anda banyak berkutat di dunia game baik sebagai produsen, distributor maupun game developer. Anda akan bisa menerangkan dengan lebih nyata bagaimana dunia sedang berubah dengan munculnya generasi gamers yang akan banyak mengubah pola dan perilaku masyarakat di masa mendatang.[/quote]

riset ngebuktiin:

[*]dunia kerja sekarang sudah mulai diserbu dan diisi generasi para gamer.
[*]mereka siap bersaing ketak dengan generasi non gamer.
[*]dan gamer memiliki 7 hebat kebiasaan yang khas untuk bersaing.



7 kebiasaan hebat khas gamer :

[*]semua orang bisa berhasil.
[*]kita harus berani mengambil resiko
[*]berlajarlah dari team bukan dari pelatih.
[*]musnahkan para bos, percayai buku panduan strategi.
[*]simaklah peta navigasi.
[*]tidak kelihatan?jangan pedulikan.
[*]mintalah team yang cocok.




jangan lupa ratenya


cekidot

Berita buruk untuk pengguna TWITTER yg MENGGUNAKAN APLIKASI PIHAK KETIGA



Melalui mailing list, Twitter mengumumkan kepada para pengembang aplikasi ketiga agar tidak membuat aplikasi Twitter lagi. Hal ini mereka sampaikan dengan maksud untuk menjaga konsistensi pengalaman penggunaan dan menambah tingkat kontrol Twitter terhadap layanan yang mereka suguhkan kepada para pengguna. Walaupun bermaksud baik, pengumuman ini cukup menusuk hati para pengembang yang aplikasinya telah banyak membantu memopulerkan media sosial ini.

Ryan Sarver, anggota tim Twitter yang memuat pengumuman ini, berpendapat bahwa banyaknya jenis aplikasi dengan gaya penyajian yang berbeda-beda justru membuat para pengguna bingung. Oleh karena itu, konsistensi penyajian layanan menjadi fokus utama mereka. Sarver juga mengatakan dari ribuan aplikasi Twitter yang terdaftar, banyak di antaranya yang didesain untuk menyerang penggunanya. Melalui pertimbangan ini, pihak Twitter tidak lagi memperbolehkan pengembangan aplikasi pihak ketiga untuk memimik layanan mereka.

Dari sudut pandang para pengembang aplikasi pihak ketiga, peraturan ini hanyalah pemanis dari tujuan yang sebenarnya, yaitu untuk mengusir mereka. Mereka menganggap bahwa selama ini telah banyak aplikasi yang dikembangkan dan digunakan oleh Twitter untuk meningkatkan kepopulerannya. Namun, setelah Twitter mendapatkan apa yang mereka inginkan, para pengembang justru didepak.

Pengumuman Twitter untuk menutup kesempatan para pengembang dalam menciptakan aplikasi berbasis layanan mereka disinyalir hanya berlaku bagi tim pengembang baru. Bagi mereka yang aplikasinya telah tersedia, dapat melanjutkan penggunaan aplikasi tersebut sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh Twitter.

Source: Ars Technica